Review Beberapa Terapi Psikologi

Terapi Psikoanalisis

Terapi ini berfokus untuk mencari penyebab perilaku klien saat ini dari kejadian masa lalunya, hal ini didasari oleh teori gunung es yang dikemukakan oleh Freud yang intinya adalah, bahwa alam bawah sadar manusia memiliki peran yang jauh lebih besar daripada alam sadar manusia. Alam bawah sadar manusia terbentuk karena pengalaman-pengalaman yang terjadi di masa lalu yang sulit untuk diingat tetapi sangat mempengaruhi perilaku manusia saat ini.

Kelebihan :

Terapi ini mampu mendeteksi titik pusat permasalahan seseorang dengan melihat masa lalunya, sehingga terapis bisa langsung membantu klien untuk menyelesaikan akar permasalahannya hingga perilaku lainnya akan ikut berubah menjadi lebih baik.

Kekurangan :

Terapi ini memakan waktu yang lama karena harus mengurut-urut kejadian hingga ditemukan titik masalahnya. Selain itu, terapi ini hanya berfokus pada masa lalu.

 

Terapi Humanistik

Humanistik memandang bahwa setiap manusia memiliki kebebasan dan manusia bertanggung jawab atas segala tindakannya.

Kelebihan :

Membuat klien menjadi sadar akan dirinya, kebebasan yang ia miliki dan juga tanggung jawab yang harus ia tanggung atas setiap perilakunya.

Kekurangan :

Tidak memiliki perangkat teknik yang siap pakai.

 

Person Centered Therapy

Menurut pandangan ini, gangguan-gangguan psikologis individu disebabkan oleh orang lain yang menghambat perjalanan individu menuju aktualisasi diri. Pada terapi ini yang menjadi fokus adalah klien.

Kelebihan :

Mampu membuat klien benar-benar mengenal dirinya dan mampu menyelesaikan masalahnya tanpa bergantung dengan terapis.

Kekurangan :

Tidak sistematis dan sangat fokus pada unsur perasaan.

 

Logotherapy

Logoterapi terarah kepada realisasi nilai-nilai. Terapi ini berpegang pada pendapat bahwa ketegangan fundamental antara ‘ada’ dan ‘harus ada’ adalah esensial bagi manusia dan nervosi merupakan pelarian dari tanggung jawab. Hidup mempunyai makna dalam setiap situasi.

Kelebihan :

Mampu menyadarkan klien bahwa setiap manusia mempunyai potensi, dan setiap orang bisa menggunakan potensinya untuk bangkit kembali.

Kekurangan :

Bisa dikatakan, terapi ini cukup tergantung oleh kemauan dan kesungguhan klien untuk mengatasi dirinya.

Cognitive Behavior Therapy

Terapi ini terpusat pada perubahan tingkah laku yang terlihat melalui teknik-teknik kognitif.

Kelebihan :

Mampu mengubah perilaku buruk klien dengan waktu yang lebih cepat daripada dengan teknik psikoanalisa, karena terapi ini fokus pada masa kini.

Kekurangan :

Kurang mempedulikan masa lalu yang menyebabkan perilaku tertentu muncul pada individu atau klien.

Rational Emotive Therapy

Gangguan pada dasarnya terdiri dari kalimat-kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis, dan tidak bisa disahihkan, yang oleh orang yang terganggu diyakini secara dogmatis dan tidak kritis, dan terhadapnya dia beremosi dan bertindak sampai dia sendiri kalah.

Kelebihan :

Memampukan klien untuk bisa menemukan kembali rasionalitasnya sehingga ia bisa kembali mengendalikan tindakannya.

Kekurangan :

Terapi ini terlihat terlalu rasional dan mengesampingkan unsur perasaan.

 

Group Therapy

Terapi yang dilakukan di dalam sebuah kelompok kecil yang terdiri dari orang-orang yang memiliki kemiripan kasus. Untuk mengatasi masalah tiap-tiap klien menceritakan masalahnya dan yang lain bisa memberikan pendapat sehingga tiap-tiap klien akhirnya bisa menemukan jalan keluar atas masalahnya.

Kelebihan :

Terapi ini cukup mudah dilakukan dan tidak memakan waktu lama.

Kekurangan :

Perbedaan pendapat antar individu dapat saja terjadi karena perbedaan cara pandang, kepribadian, budaya, dan lain-lain.

 

 

Advertisements

GROUP THERAPY

Pemeran :

 

Agita               : Terapis

Evania             : Survivor

Gesia               : Kecanduan Nonton

Nadya             : Kecanduan Belanja

Nicholas          : Narator

Rama               : Kecanduan Gadget

Rurialita          : Kecanduan Media Sosial

 

Rurialita, mahasiswa jurusan desain interior berusia 22 tahun memiliki gangguan tidak dapat mengendalikan diri untuk mengupload diberbagai macam media sosial. Instagram, path, twitter, tumblr, snapchat tidak pernah absen dari keseharian ruri. Ruri akan merasakan kecemasan jika sehari tidak mengupdate di media sosial.

Gesia, siswa sma berumur 17 tahun memiliki gangguan tidak dapat mengendalikan diri untuk menonton berbagai acara televisi yang berhubungan dengan korea. Reality show, acara musik, dan drama tidak pernah ditinggalkan olehnya. Dalam sehari minimal 5 jam selalu ia sempatkan untuk menonton, jika libur maka bisa dipastikan kira2 selama 20 jam menonton acara tanpa makan atau melakukan kegiatan lain. hal ini sangat mengganggu kehidupannya baik kesehatan maupun pendidkan.

Nadya, karyawan di sebuah pegawai swasta berusia 25 tahun, memiliki gangguan tidak dapat mengendalikan diri untuk berbelanja, baik berbelanja pakaian, aksesoris maupun yang lainnya. Suka sekali berbelanja secara offline, maupun online. Dalam satu minggu kemungkinan lebih dari 3 kali dan bahkan lebih menghampiri mall ataupun butik-butik untuk berbelanja. Dan juga sering mengakses berbagai toko-toko online untuk berbelanja. Karena terlalu seringnya berbelanja, tidak jarang tagihan kartu kreditnya sampai membengkak.

Rama, seorang siswa smp berumur 13 tahun memiliki gangguan tidak dapat mengendalikan diri tedahadap gadget, disetiap kegiatannya ia tidak pernah lepas dari gadget yang ia miliki. kesukaannya terhadap gadget  sangat menganggu aktvitasnya sehari-hari, dalam kesehariannya ia banyak menghabiskan waktu bersama gadget­-nya dan jarang sekali berinteraksi dengan orang-orang baik didalam rumah maupun diluar rumah, sampai-sampai terkadang ia lupa untuk makan dan banyak menunda pekerjaan yang seharusnya wajib dilakukan contohnya seperti belajar.

Eva, seorang pemilik event organizer berusia 27 tahun tidak dapat mengendalikan diri untuk mengonsumsi kopi. Dalam sehari, ia dapat menghabiskan 16 cangkir kopi. Setiap hari ia mengunjungi cafe-cafe yang menyediakan kopi dan juga meminum kopi yang dia buat sendiri dirumahnya. Kecanduannya terhadap kopi berdampak pada kesehatannya sehingga ia menderita penyakit maag yang akut. Eva sadar bahwa kecanduannya ini tidak baik dan ia memutuskan untuk berobat kepada terapis Agita dan dapat mengatasi kecanduannya.

Agita, seorang terapis berusia 35 tahun memiliki sebuah klinik di London. Dia berprofesi sebagai terapis selama 7 tahun dan dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai terapis yang handal. Sekarang ia berusaha menangani kasus kecanduan yang dialami oleh empat orang tadi.

Pada pukul 10.00 waktu Greenwich di klinik Bellevue 3.0

Pertemuan pertama

Agita        : Oke, kita sepakat untuk memulai konseling setiap hari Kamis pukul 10.00. Satu sesi berlangsung selama empat jam. Mari kita mulai dari Nadya, silahkan diceritakan apa yang menjadi masalah Anda.

Nadya    : Saya karyawan swasta, umur 25 tahun, saya suka sekali belanja pakaian, aksesoris dan lain-lain. Saya juga suka belanja offline dan online. Dalam satu minggu kemungkinan lebih dari 3 kali datang ke mall dan butik-butik untuk belanja. Saya juga sering akses berbagai toko-toko online untuk belanja. Tapi kebiasaan belanja saya ini selalu bikin saya terkejut, karena tagihan kartu kredit saya jadi bengkak sekali. Saya pengen banget lepas dari kebiasaan ini.

Agita     : Hhhmm.. Oke, selanjutnya silahkan Rurialita untuk menceritakan masalahnya.

Rurialita : Saya mahasiswa jurusan desain interior, umur saya 22 tahun, saya suka banget update instagram, path, twitter, tumblr, snapchat. Saya akan cemas jika sehari saja tidak mengupdate di media sosial. Awalnya saya ngerasa ya wajar-wajar ajalah jaman sekarang kaya begitu, tapi lama-lama saya ngerasa kaya selalu dikejar-kejar perasaan cemas kalo nggak update medsos, capek juga saya kalo begitu terus. Gimana ya caranya supaya nggak kaya gitu lagi?

Agita     : Baik, pertanyaannya di tampung dulu, nanti kita diskusi sama-sama, selanjutnya silahkan Gesia.

Gesia     : Saya siswa SMA umur saya 17 tahun, saya suka banget sama acara Korea. Reality show, acara musik, sama drama, semuanya saya suka. Dalam sehari minimal 5 jam cuma untuk nonton, kalau libur, kira-kira selama 20 jam nonton acara tanpa makan atau ngapa-ngapain. Saya ngerasa kebiasaan itu lama-lama mengganggu saya, karena saya jadi suka sakit mag, terus nggak sempet ngerjain tugas sekolah juga. Saya mau coba untuk ubah kebiasaan saya ini.

Agita     : Oke, terima kasih Gesia, selanjutnya Rama silahkan.

Rama     : Saya masih SMP, umur saya 13 tahun. Saya seneng banget mainan handphone, tab sama laptop, awalnya menurut saya sih nggak apa-apa mainan gadget, namanya juga anak masa kini, mana bisa hidup tanpa gadget? Emangnya hidup di jaman perjuangan? Tapi mungkin karena itu, sekarang mata saya rusak, jadi pake kacamata, terus saya ngerasa kayaknya jadi nggak deket sama orang-orang yang ada di sekitar saya. Kayaknya saya nggak boleh terlalu sering mainan gadget deh.

Agita     : Ya, kita semua sudah menceritakan masalah masing-masing. Ada yang ingin memberikan masukan untuk masalah masing-masing?

(keempat klien saling memberikan masukan)

Pertemuan ketiga

Agita   : Selamat pagi semuanya. Hari ini kita akan memulai sesi ketiga konseling kita. Hari ini saya mendatangkan seseorang yang memiliki permasalahan yang sama dengan kalian dan dia sudah berhasil mengatasi masalahnya.

Eva      :  Selamat pagi, saya Eva. Disini saya akan menceritakan pengalaman saya.

(Eva menceritakan pengalamannya. Klien mulai bertanya kepada Eva)

Agita   :  Setelah mendengar pengalaman saudari eva, bagaimana perjuangannya, saya harap dapat memotivasi kalian untuk bisa mengatasi masalah yang sedang kalian hadapi sekarang.

Pertemuan keenam

Agita   :  Kita sudah sampai di pertemuan terakhir. Coba ceritakan kemajuan atau perubahan apa saja yang telah terjadi pada diri Anda.

Rama   :  Saya sekarang sudah lebih jarang pake gadget. Sekarang saya lebih banyak ngobrol-ngobrol sama temen-temen sambil belajar bareng, terus saya juga jadi ketagihan curhat sama mama saya. Sekarang saya juga sudah punya jam-jam khusus untuk mainan gadget, pokoknya sudah lebih oke deh.

Gesia   :  Kalau saya sekarang sudah mulai peduli dengan kesehatan saya. Rutin olahraga, makan tepat waktu dan juga berkomunikasi dengan baik sama orang-orang disekitar saya. Yaaa garis besarnya saya sudah menjalani kehidupan nyata  dengan baik.

Ruri     : Kalau saya sekarang hanya menggunakan tiga medsos, yaitu line, path dan instagram. Saya juga nggak sering-sering buka medsos, cuma kalau lagi ada waktu luang saja saya baru buka medsos, kemajuan banget buat saya.

Nadya : Kemajuan yang telah saya alami selama ini sudah cukup memuaskan, saya sudah bisa mengurangi intesitas berbelanja saya, saya juga sudah bisa menahan keinginan saya untuk berbelanja jika itu tidak diperlukan, sekarang saya juga lebih memilih untuk menyumbangkan atau menyedekahkan uang saya jika dapat uang lebih ketimbangkan menghambur-hamburkan uang saya, ya, karena itulah sekarang tagihan kartu kredit saya tidak penah membengkak lagi.

Agita   : Wah, memang kemajuan yang bagus, silahkan dipertahankan atau bahkan dikembangkan jadi lebih baik. Sekarang, ayo tepuk tangan untuk kita semua!

 

Cognitive Behavior Therapy, Rational Emotive Therapy, Group Therapy

COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY

Terapis tingkah laku memusatkan perhatian pada usaha untuk membantu klien mengadakan perubahan-perubahan tingkah laku yang jelas (kelihatan), tetapii terapis juga sering menggunakan teknik-teknik kognitif untuk mengubah distorsi-distorsi kognitif dan kepercayaan-kepercayaan pasien yang merusak diri.

Para terapis memusatkan perhatian pada “di sini” dan “kini”. Mereka juga berusaha untuk membantu perkembangan pemahaman dalam arti membantu para pasien untuk memperoleh kesadaran yang lebih baik mengenai keadaan-kedaan di mana tingkah laku-tingkah laku bermasalah itu terjadi.

RATIONAL EMOTIVE THERAPY

Terapi rasional-emotif berpendapat bahwa alasan-alasan untuk setiap perbuatan yang menyimpang (termasuk kejahatan) dapat ditentukan dengan memeriksa apa yang dikatakan oleh orang yang bersalah kepada dirinya sendiri sebelum atau pada waktu perbuatan itu dilakukan.

Gangguan pada dasarnya terdiri dari kalimat-kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis, dan tidak bisa disahihkan, yang oleh orang yang terganggu diyakini secara dogmatis dan tidak kritis, dan terhadapnya dia beremosi dan bertindak sampai dia sendiri kalah.

Tujuan Rational Emotive Therapy

Meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik. Menurut Ellis, tujuan utama psikoterapi yang lebih baik adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi dirinya telah dan masih merupakan sumber utama dari gangguan emosional yang dialaminya.

Terapi ini mendorong suatu re-evaluasi filosofis dan ideologis berlandaskan asumsi bahwa masalah-masalah manusia berakae secara filosofis. Mendorong klien agar menguji secara kritis nilai-nilai dirinya yang paling dasar. Tujuan utama proses terapinya adalah membantu klien untuk membebaskan dirinya sendiri dari simtom-simtom yang dilaporkan dan yang tidak dilaporkan kepada terapis. Tujuan lainnya adalah menyembuhkan irasionalitas dengan rasionalitas.

GROUP THERAPY

Metode Terapi Kelompok

Awalnya terapi kelompok bersifat didaktis, yaitu pemimpin kelompok berceramah, meyakinkan, mengarahkan. Tetapi terapi kelompok mengalami perkembangan, sehingga pemimpin kelompok menjalankan fungsi yang sama untuk kelompok sama seperti yang dilakukan oleh terapis individual bagi kliennya. Pemimpin kelompok mendorong, mengungkapkan, memeriksa motif-motif, memberikan penafsiran-penafsiran, dan sedikit demi sedikit membangkitkan partisipasi masing-masing anggota kelompok.

Kegunaan Terapi Kelompok

  1. Terapi kelompok lebih murah karena beberapa klien ditangani pada waktu yang sama
  2. Format kelompok memberi peluang kepada klien untuk mempelajari bagaimana orang lain yang mengalami masalah-masalah yang serupa menangani kesulitan-kesulitan mereka, dan para anggota lain dalam kelompok dan terapis memberi mereka dukungan sosial
  3. Terapi kelompok memungkinkan terapis menggunakan sumber daya yang terbatas.
  4. Dapat memberikan sumber informasi dan pengalaman hidup yang dapat ditimba oleh klien.
  5. Adanya dukungan kelompok untuk tingkah laku yang tepat.
  6. Belajar bahwa masalah atau kegagalan yang dialami seseorang bukanlah hal-hal yang unik.
  7. Para anggota kelompok yang bertambah baik merupakan sumber pengharapan bagi orang-orang lain dalam kelompok.
  8. Adanya peluang-peluang untuk belajar menangani orang secara lebih efektif

Bentuk-Bentuk Terapi Kelompok

  • Psikodrama

Klien didorong untuk memainkan suatu peran emosional di depan para penonton tanpa dia sendiri dilatih sebelumnya.

Kegunaannya : Klien dapat merasa sedikit lega dan dapat mengembangkan pemahaman baru yang memberinya kesanggupan untuk mengubah perannya dalam kehidupan nyata.

  • Role playing

Variasi dari psikodrama yang tidak menggunakan alat-alat sandiwara dan teknik ini banyak digunakan untuk mendorong klien berbicara dan mengembangkan persepsi-persepsi baru dalam berbagai situasi kelompok.

  • Encounter groups

Bentuk khusus dari terapi kelompok yang muncul dari gerakan humanistik. Bertujuan untuk membantu mengembangkan kesadaran diri dengan berfokus pada cara bagaimana para anggota kelompok berhubungan satu sama lain dalam situasi di mana didorong untuk mengungkapkan perasaan-perasaan secara terus terang.

Sumber:

Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta:Kanisius.

 

 

 

Penerapan Terapi Person Centered Therapy

Misalnya, A berpacaran dengan B, A selalu mengganggap bahwa B adalah orang yang tidak setia, menurut A, kalau jarak mereka sedang berjauhan B pasti akan dekat-dekat dengan orang lain, akhirnya A bersikap berlebihan terhadap B, B harus selalu melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan B tiap hari kepada A. Sampai akhirnya suatu hari A benar-benar melihat B sedang senang-senang dengan orang lain. Lalu A merasa sangat kesal dan sedih, dan akhirnya A datang menemui konselor untuk berkonsultasi.

Konselor menggunakan person centered therapy. Konselor menciptakan hubungan yang nyaman antara konselor dengan A, sehingga A tidak segan-segan bercerita tentang masalahnya, sampai akhirnya A menyadari semua hal yang telah terjadi dan menyadari solusinya. A menyadari bahwa sikapnya terlalu berlebihan, dan ia harus belajar untuk percaya kepada pacarnya, sehingga hubungan mereka menjadi lebih baik.

Terapi Humanistik, Person Centered Therapy, dan Logoterapi

HUMANISTIK

 

Eksistensi Humanistik

 

Menurut Sartre, eksistensialisme adalah suatu humanisme dalam makna bahwa terkait dengan manusia dan nilai-nilai personal serta dengan realisasi kemakhlukan manusia sejati. Ia memandang kehidupan setiap orang sebagai sebuah pencarian akan diri sejati dan menekankan bahwa satu-satunya cara bagi seseorang untuk merealisasikan dirinya yang sesungguhnya adalah dengan  mengetahui bahwa eksistensinya adalah kebebasan individunya, ia bertanggungjawab atas segala tindakannya dan yang ditentukan oleh ketiadaan.

Dalam pemikiran eksistensial, manusia dianggap bertanggung jawab atas proses kemenjadian dalam arti bahwa dengan memilih di antara berbagai alternatif yang berbeda perilaku.

 

Unsur-unsur Terapi

 

  1. Munculnya Gangguan

Dalam buku The Meaning of Anxiety, May menyatakan bahwa banyak perilaku manusia memiliki motivasi dari landasan rasa takut dan kecemasan. Kegagalan untuk menghadapi kematian, bertindak sebagai pelarian sementara dari kecemasan dan ketakutan atas nonbeing, namun pelarian tersebut tidak akan menjadi permanen. Kematian adalah sesuatu yang pasti ada dalam kehidupan, yang cepat atau lambat harus dihadapi semua orang.

 

Manusia mengalami kecemasan saat mereka sadar bahwa eksistensinya terancam hancur atau rusak. May mendefinisikan kecemasan sebagai kondisi subjektif ketika seseorang nenyadari bahwa eksistensinya dapat dihancurkan dan ia dapat menjadi ‘bukan apa-apa’ (nothing). Kecemasan dapat muncul dari kesadaran atas nonbeing seseorang atau dari ancaman atas nilai-nilai yang dianggap penting untuk eksistensi seseorang.

 

Kecemasan dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Kecemasan Normal
  2. Kecemasan Neurotik

 

  1. Tujuan Terapi

Difokuskan pada si pribadi, bukan pada problem yang dikemukakan oleh klien. Lebih jelasnya konseling adalah merevisi atau meperbaiki fungsi pribadi. Dalam proses konseling diperlukan suatu kondisi yang dianggap bisa menciptakan perubahan kepribadian.

 

  1. Peran Terapis

Tugas utama dari terapis adalah untuk secara akurat keberadaan klien di dunia dan untuk menegakkan tatap muka secara pribadi dan otentik. Klien menemukan keunikan dirinya dalam hubungannya dengan si terapis, tatap muka antara dua manusia, adanya hubungan klien dengan terapis, dan keotentikan dari tatap muka di sini dan sekarang mendapatkan tekanan, baik klien maupun terapis bisa berubah oleh tatap muka ini.

 

Teknik-teknik Terapi

 

Para terapis bisa meminjam teknik pendekatan lain dan memasukkannya dalam kerangka eksistensial. Pendekatan ini tidak memiliki perangkat teknik yang siap pakai. Inti dari terapi ini adalah penggunaan pribadi terapis. Ada tiga tahap dalam konseling eksistensial, yaitu tahap pendahuluan, tahap tengah, dan tahap akhir konseling.

 

PERSON CENTERED THERAPY

 

Konsep Dasar

 

Carl Rogers berpendapat bahwa orang-orang memiliki kecenderungan dasar yang mendorong mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Dalam pandangan Rogers, gangguan-gangguan psikologis pada umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju kepada aktualisasi diri. Bila orang-orang lain bersifat selektif dalam menerima perasaan-perasaan dan tingkah laku mereka selama masa kanak-kanak, maka mereka mungkin tidak mengakui bagian-bagian dari diri kita yang tidak disenanginya.

Pendekatan humanistik Rogers terhadap terapi person centered therapy membantu klien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik. Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang dimilikinya kepada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni klien bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi.

 

Unsur-unsur Terapi

 

  1. Tujuan terapi

Proses terapi membawa pengaruh atau hasil pada kepribadian dan tingkah laku, yaitu sebagai berikut :

  • Klien menjadi kurang defensif dan lebih selaras serta terbuka pada pengalamannya
  • Klien semakin realistik, objektif, dan persepsi-persepsinya semakin luas
  • Klien semakin efektif dalam memecahkan masalahnya
  • Penyesuaian dirinya secara psikologis semakin mendekati optimal
  • Kepekaan terhadap ancaman semakin berkurang karena keselarasan antara ‘self’ dan pengalamannya semakin meningkat
  • Persepsi terhadap diri idealnya semakin dapat dicapai dan semakin realistik
  • Diri semakin selaras dengan diri idealnya
  • Seluruh ketegangan berkurang
  • Kadar positive self-regard klien semakin meningkat
  • Klien dapat mempersepsikan tempat dari penilaian dan tempat dari pilihan di dalam dirinya.
  • Klien mempersepsikan orang-orang lain secara lebih realistik dan akurat
  • Klien semakin mengalami penerimaan diri dari orang-orang lain
  • Klien semakin menerima tingkah laku sebagai milik dari ‘self’ dan sebaliknya tingkah laku-tingkah laku yang tidak diakui sebagai pengalaman ‘self’ menjadi berkurang
  • Tingkah laku klien dinilai oleh orang-orang semakin dapat diterima oleh masyarakat dan matang
  • Tingkah laku klien semakin kreatif, adaptif, dan mengungkapkan sepenuhnya tujuan-tujuan dan nilai-nilainya sendiri.

 

  1. Peran terapis

Peran terapis dalam pertemuan terapi person centered tidak pasif atau laisser-faire sebagaimana dipikirkan oleh banyak orang. Terapis yang berperan laisser-faire dapat ditafsirkan oleh klien bahwa terapis tidak menganggap klien sebagai orang yang berharga.

Rogers mengatakan bahwa fungsi terapis adalah menerima sedapat mungkin kerangka acuan internal klien, mempersiapkan dunia sebagaimana dilihat klien, mempersiapkan klien sendiri sebagaimana dia dilihat oleh dirinya sendiri, dan dengan berbuat demikian dia menyisihkan semua persepsi dari kerangka acuan internal, dan mengkomunikasikan sesuatu dari pemahaman empatik ini kepada klien.

 

Teknik-teknik Terapi

 

Terapis person-centered masih menggunakan beberapa teknik (refleksi perasaan-perasaan yang dialami klien), yaitu teknik nondirektif, tetapi terapis tidak merasa terikat oleh teknik-teknik tersebut dan terapis juga tidak menggunakan teknik-teknik tersebut secara terencana dan hati-hati pada waktu melaksanakan wawancara.

 

LOGOTHERAPY

 

Konsep Dasar

 

Frankl memperhatikan problem manusia kini dalam keterpusatannya pada sentimentalisme yang muncul akibat berkurangnya secara absolut arti hidup, rasa perasaan hampa yang sering kali dikaitkan dengan suatu sentimentalisme kekosongan batin.

Manusia tidak mempunyai impuls dan insting yang menunjukan secara otomatis kepadanya apa yang harus dibuat dan, berbeda dengan manusia masa lampau, manusia masa kini tidak lagi memiliki nilai-nilai serta tradisi yang berbicara kepadanya tentang apa yang harus dibuat.

Frankl melihat banyak nervosi lahir dari konflik batin, pelbagai problem kesadaran, dan perbenturan nilai-nilai. Manusia dimotivasikan oleh suatu kehendak yang dapat dipaksa untuk mencapai makna.

Logoterapi terarah kepada realisasi nilai-nilai. Terapi ini berpegang pada pendapat bahwa ketegangan fundamental antara ‘ada’ dan ‘harus ada’ adalah esensial bagi manusia dan nervosi merupakan pelarian dari tanggung jawab.

 

Unsur-unsur Terapi

 

  1. Tujuan terapi

Logoterpai bermaksud mengatasi psikologisme yang mereduksi segala-galanya kepada mekanisme psikis. Ada reduksi genetis (segalanya berasal dari mekanisme) dan pandeterminisme analitis, yang memberikan tempat kepada yang disebut furor analysandi.

 

  1. Peran terapis

Relasi konselor dengan klien harus mengembangkan encounter , yaitu hubungan antarpribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami, dan menerima sepenuhnya satu sama lain.

 

Teknik-teknik Terapi

 

Suatu teknik logoterapi khusus adalah yang disebut intensi paradoksal. Teknik ini membantu orang yang nervosi untuk menginginkan sesuatu yang justru ditakutinya dan yang menimbulkan kecemasan.

 

Sumber:

Feist, J., & Feist, G. J. (2013). Teori kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika

Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta:Kanisius

Lippi, A. (2001). Salid dan penyembuhan. Yogyakarta:Kanisius

Anwar, F. (2011). Terapi eksistensial humanistik dalam konseling islam.

Penerapan Terapi Psikoanalisis

Ada banyak jenis terapi yang menerapkan teori psikanalisis, salah satunya adalah analisis mimpi. Analisis mimpi dapat digunakan untuk mengetahui isi pikiran alam bawah sadar seseorang, sehingga kita bisa tahu apa yang sedang benar-benar dipikirkan oleh seseorang yang di repress hingga masuk ke alam bawah sadar.

Misalnya, seorang remaja perempuan benama A bermimpi, ia bertemu dengan B dan C sedang makan bersama di sebuah restoran. A merasa sangat sedih melihatnya, karena A baru saja putus dengan B.

Ternyata, di dalam kehidupan nyata B adalah mantan pacar A. Saat itu A masih berharap suatu saat ia akan berbalikan kembali dengan B, tapi ternyata teman-teman A memberitahu kalau B sudah dekat dengan perempuan lain, yaitu C. Lalu A berusaha sebisa mungkin untuk melepaskan B dan selalu menyangkal perasaannya sendiri, bahwa ternyata A memang masih menyukai B. A seringkali membayangkan kalau suatu saat akan melihat B dan C sedang bersama, ia selalu membayangkan hal itu akan terjadi supaya ia terbiasa dan tidak terkejut kalau suatu saat benar-benar melihat kejadian itu.

Akhirnya pikiran-pikirannya mengenai mantannya itu secara tak disadari masuk ke alam bawah sadar karena repress yang terus menerus, hingga muncul dalam bentuk mimpi.

Psikoterapi

PENGANTAR

PENGERTIAN PSIKOTERAPI

Psikoterapi berasal dari dua kata, yaitu psyche yang artinya jiwa, dan therapy yang artinya penyembuhan. Psikoterapi adalah usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku.

TUJUAN PSIKOTERAPI

Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (1991), yaitu : Membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sduah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.

Tujuan Psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menurut ivey, et, al (1987) adalah : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.

PERBEDAAN PSIKOTERAPI DENGAN KONSELING

Menurut Brammer & Shostrom (1977):
1. Konseling ditandai oleh adanya terminologi seperti : educational, vocational, supportive, situational, problem solving, conscious, awareness, normal, present-time dan short-term.
2. Sedangkan psikoterapi ditandai oleh : supportive (dalam keadaan krisis), reconstructive, depth emphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe emotional problems and long term.

Pallone dan Patterson menyimpulkan, bahwa :
1. Konseling digunakan untuk : Klien, gangguan yang kurang serius, masalah jabatan dan pendidikan, berhubungan dengan pencegahan, lingkungan pendidikan dan non medis, berhubungan dengan kesadaran, metode pendidikan.
2. Sedangkan psikoterapi digunakan untuk : Pasien, gangguan yang serius, masalah kepribadian dan pengambilan keputusan, berhubungan dengan penyembuhan, lingkungan medis, berhubungan dengan ketidaksadaran, metode penyembuhan.

PENDEKATAN TERHADAP MENTAL ILLNESS

Menurut J. P. Chaplin :

1. Biological, meliputi keadaan mental organik, penyakit efektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
2. Psychological, meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketikmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
3. Sosiological, meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatangbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
4. Philosophic, meliputi kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghargai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga ada istilah keharusan atau pemaksaan.

TERAPI PSIKOANALISIS

KONSEP DASAR TEORI PSIKOANALISIS

• Terdapat 3 struktur utama kepribdaian, yaitu id, ego, dan superego. Id bekerja berdasarkan prinsip kesenangan, ego berdasarkan realita, dan superego berdasarkan hukum.
• Terdapat prinsip mekanisme pertahanan ego, yaitu menyangkal realitas dan beroperasi dari alam bawah sadar. Tujuan dilakukannya pertahanan ego: membantu individu untuk bisa mengatasi rasa cemas. Berikut ini adalah jenis-jenis mekanisme pertahanan ego : Denial/ penyangkalan, Proyeksi, Fiksasi (terpaku pada satu tahap perkembangan), Regresi, Rasionalisasi, Sublimasi, Displacement, Represi VS Supresi, Formasi reaksi, Introyeksi, Kompensasi.
• Pembentukan kepribadian seseorang ditentukan oleh 5 tahun pertama kehidupannya. 5 tahapan psikososial dan psikoseksual, yaitu : fase oral, fase anal, fase laten, fase phalik, fase genital.

UNSUR-UNSUR TERAPI PSIKOANALISIS

• Muncul Gangguan
Munculnya masalah/gangguan, Psikoterapi berupaya untuk memunculkan penyebab masalah atau gangguan itu muncul melalui intervensi yang ditinjau dari lingkungan, kepribadian, faktor ekonomi, afeksi, komunikasi interpesonal dan lain sebagainya. Dengan usaha lebih mengenal penyebab gangguan itu muncul klien dapat memperkuat diri agar terhindar dari resiko yang tinggi dengan modifikasi interaksi terhdap lingkungannya.
• Tujuan Terapi
Membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
• Peran Terapi
1. Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis
2. Membangun hubungan kerja dengan klien, dengan banyak mendengar dan menafsirkan
3. Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan klien
4. Mendengarkan kesenjangan dan pertentangan pada cerita klien

TEKNIK TERAPI PSIKOANALISIS

1. Penggunaan Asosiasi Bebas
Dengan menggunakan asosiasi bebas, pasien didorong untuk melepaskan seluruh refleksi kesadarannya, mengikuti pemikiran dan perasaannya secara spontan. Sehingga pengungkapan hal-hal yang terlintas dalam pikiran pasien tersebut berjalan dengan lancar.

Asosiasi bebas bertumpu pada anggapan bahwa satu asosiasi mengarahkan pada hal-hal lain yang terdapat jauh dialam tak sadar. Asosiasi yang diucapkan oleh pasien ditafsirkan sebagai pengungkapan tersamar atau berkedok dari pemikiran atau perasaan yang direpres.

2. Analisis Mimpi
Freud memandang mimpi sebagai jalan utama menuju ke alam tak sadar karena dia melihat isi mimpi ditentukan oleh keinginan-keinginan yang direpres. Mimpi juga bisa ditafsirkan sebagai pemuasan simbolis dari keinginan-keinginan, dan isinya sebagian merefleksikan pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak awal.

3. Analisis Transferensi
Transferensi adalah fenomena saat pasien menggunakan mekanisme pertahanan ego, dimana impuls tak sadar dialihkan sasarannya dari objek satu ke objek lainnya.

Dalam fenomena transferensi, pasien akan mengalami neurosis transferensi, dimana neurosis transferensi ini membantu memperoleh pemahaman atas cara-cara pasien dalam mengamati, merasakan dan bereaksi terhadap figur orang-orang yang berarti pada awal kehidupannya.

4. Reedukasi
Reedukasi bukanlah suatu teknik terapi psikoanalisa, melainkan suatu upaya mendorong pasien agar memperoleh pemahaman baru atas kehidupan yang dijalaninya. Reedukasi ini dilakukan pada tahap akhir dari terapi.

Sumber :
Chaplin, J.P. 2006. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta:PT RajaGrafindo Persada
Freud, S. 2006. Teori Kepribadian Dan Terapi Psikoanalitik Freud. Yogyakarta:kanisius
Gunarsa, Singgih D. 1992. Konseling dan psikoterapi. Jakarta:Gunung Mulia.
http://www.psikoterapis.com
http://www.ilmupsikologi.com
http://www.psychoshare.com

Tugas 4

Pengertian Komunikasi

suatu proses di mana seseorang atau lebih menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain.

Proses Komunikasi

Hambatan Komunikasi

1. Hambatan fisik

2. Hambatan kepribadian

3. Hambatan usia

4. Hambatan budaya

5. Hambatan bahasa

6. Hambatan kecakapan teknologi

7. Hambatan lingkungan alam dan kondisi sekitar.

Definisi Komunikasi Interpersonal Efektif dalam Organisasi yang Mencakup

  1. Componential : Penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera.
  2. Situational : Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.

Model Pengolahan Informasi

  1. Rational : Proses informasi adalah proses menerima, menyimpan dan mengungkap kembali informasi.
  2. Limited Capacity : Model ini menunjukkan bagaimana orang menyederhanakan pengolahan informasi
  3. Expert : Bergantung pada limited capacity
  4. Cybernetic : Model ini berpendapat bahwa informasi diproses dari waktu ke waktu.

Model Interaktif Manajemen

  1. Confidence : Dalam manajemen timbulnya suatu interaksi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
  2. Immediacy : model organisasi yang membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan.
  3. Interaction management : Adanya berbagai interaksi dalam manajemen seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan.
  4. Expressiveness : Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
  5. Other Orientation : Suatu manajemen organisasi berorientasi pada pegawai.

Sumber:

mengerjakantugas.blogspot.co.id

liwunfamily.wordpress.com

syulhadi.wordpress.com

amenaalatas.blogspot.co.id

nurulreikhanaselvya.blogspot.co.id

nataliabriliani.blogspot.co.id

 

 

 

 

Apa Rencana Saya?

Apa rencana karir saya setelah lulus kuliah? Dulu saat saya masih SMA, saya ingin menjadi dokter anak, lalu pilihan kedua adalah ingin menjadi seorang psikolog anak, alternatif lainnya adalah ingin menjadi desainer interior dan chef. Tapi pada akhirnya karena kuliah kedokteran di Indonesia sangat mahal dan saya juga bukan seorang genius yang bisa dengan mudah mendapatkan beasiswa kuliah kedokteran, saya memilih pilihan kedua, yaitu menjadi seorang psikolog anak.

Untuk mencapai itu, saya memantapkan diri untuk kuliah psikologi, sebuah bidang ilmu yang memang saya sukai, dan saat ini saya berhasil bertahan hingga semester lima. Di dalam perjalanan menuju semseter lima, saya menikmati berbagai cabang ilmu psikologi, mulai dari psikologi pendidikan, psikologi perkembangan, psikologi klinis, dan lain-lain. Hal ini membuat saya sempat bimbang, apakah tetap mempertahankan cita-cita awal atau berubah. Tapi di tengah perjalanan kuliah, saya sempat mendengar bahwa saat ini kuliah S2 menjadi empat tahun. Kabar itu membuat saya tambah bingung, apakah akan lanjut S2 dan mengambil gelar psikolog atau tidak, dan sebenarnya sampai saat ini pun saya masih belum pasti menetapkan rencana karir saya. Tapi yang ada di pikiran saya sekarang adalah setelah lulus S1, saya harus kerja entah menjadi karyawan HRD, guru BK, atau mungkin kerja di biro psikologi, setelah uang terkumpul saya ingin menyalurkan hobi saya yang belum bisa kesampaian yaitu travelling keliling Indonesia. Bisa saja saat travelling saya menemukan banyak hal yang akan membantu saya untuk memutuskan apakah saya akan lanjut S2 atau tidak. Tapi sebenarnya di dalam hati saya, saya masih memiliki keinginan untuk bisa menjadi seorang psikolog, untuk saat ini saya ingin menjadi seorang psikolog klinis yang bisa membantu banyak orang dengan berbagai macam gangguan yang bahkan mungkin tidak dapat dimengerti dan diterima oleh dirinya sendiri apalagi keluarga juga rekan, yang mungkin juga ditinggalkan atau bahkan dibuang, setidaknya saya bisa memberikan bantuan untuk sedikit memulihkan kondisinya.

Kira-kira seperti itulah rencana saya setelah lulus kuliah, mungkin bisa juga disebut sebagai mimpi atau angan-angan. Sekarang, apa mimpi mu?