Terapi Humanistik, Person Centered Therapy, dan Logoterapi

HUMANISTIK

 

Eksistensi Humanistik

 

Menurut Sartre, eksistensialisme adalah suatu humanisme dalam makna bahwa terkait dengan manusia dan nilai-nilai personal serta dengan realisasi kemakhlukan manusia sejati. Ia memandang kehidupan setiap orang sebagai sebuah pencarian akan diri sejati dan menekankan bahwa satu-satunya cara bagi seseorang untuk merealisasikan dirinya yang sesungguhnya adalah dengan  mengetahui bahwa eksistensinya adalah kebebasan individunya, ia bertanggungjawab atas segala tindakannya dan yang ditentukan oleh ketiadaan.

Dalam pemikiran eksistensial, manusia dianggap bertanggung jawab atas proses kemenjadian dalam arti bahwa dengan memilih di antara berbagai alternatif yang berbeda perilaku.

 

Unsur-unsur Terapi

 

  1. Munculnya Gangguan

Dalam buku The Meaning of Anxiety, May menyatakan bahwa banyak perilaku manusia memiliki motivasi dari landasan rasa takut dan kecemasan. Kegagalan untuk menghadapi kematian, bertindak sebagai pelarian sementara dari kecemasan dan ketakutan atas nonbeing, namun pelarian tersebut tidak akan menjadi permanen. Kematian adalah sesuatu yang pasti ada dalam kehidupan, yang cepat atau lambat harus dihadapi semua orang.

 

Manusia mengalami kecemasan saat mereka sadar bahwa eksistensinya terancam hancur atau rusak. May mendefinisikan kecemasan sebagai kondisi subjektif ketika seseorang nenyadari bahwa eksistensinya dapat dihancurkan dan ia dapat menjadi ‘bukan apa-apa’ (nothing). Kecemasan dapat muncul dari kesadaran atas nonbeing seseorang atau dari ancaman atas nilai-nilai yang dianggap penting untuk eksistensi seseorang.

 

Kecemasan dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Kecemasan Normal
  2. Kecemasan Neurotik

 

  1. Tujuan Terapi

Difokuskan pada si pribadi, bukan pada problem yang dikemukakan oleh klien. Lebih jelasnya konseling adalah merevisi atau meperbaiki fungsi pribadi. Dalam proses konseling diperlukan suatu kondisi yang dianggap bisa menciptakan perubahan kepribadian.

 

  1. Peran Terapis

Tugas utama dari terapis adalah untuk secara akurat keberadaan klien di dunia dan untuk menegakkan tatap muka secara pribadi dan otentik. Klien menemukan keunikan dirinya dalam hubungannya dengan si terapis, tatap muka antara dua manusia, adanya hubungan klien dengan terapis, dan keotentikan dari tatap muka di sini dan sekarang mendapatkan tekanan, baik klien maupun terapis bisa berubah oleh tatap muka ini.

 

Teknik-teknik Terapi

 

Para terapis bisa meminjam teknik pendekatan lain dan memasukkannya dalam kerangka eksistensial. Pendekatan ini tidak memiliki perangkat teknik yang siap pakai. Inti dari terapi ini adalah penggunaan pribadi terapis. Ada tiga tahap dalam konseling eksistensial, yaitu tahap pendahuluan, tahap tengah, dan tahap akhir konseling.

 

PERSON CENTERED THERAPY

 

Konsep Dasar

 

Carl Rogers berpendapat bahwa orang-orang memiliki kecenderungan dasar yang mendorong mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Dalam pandangan Rogers, gangguan-gangguan psikologis pada umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju kepada aktualisasi diri. Bila orang-orang lain bersifat selektif dalam menerima perasaan-perasaan dan tingkah laku mereka selama masa kanak-kanak, maka mereka mungkin tidak mengakui bagian-bagian dari diri kita yang tidak disenanginya.

Pendekatan humanistik Rogers terhadap terapi person centered therapy membantu klien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik. Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang dimilikinya kepada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni klien bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi.

 

Unsur-unsur Terapi

 

  1. Tujuan terapi

Proses terapi membawa pengaruh atau hasil pada kepribadian dan tingkah laku, yaitu sebagai berikut :

  • Klien menjadi kurang defensif dan lebih selaras serta terbuka pada pengalamannya
  • Klien semakin realistik, objektif, dan persepsi-persepsinya semakin luas
  • Klien semakin efektif dalam memecahkan masalahnya
  • Penyesuaian dirinya secara psikologis semakin mendekati optimal
  • Kepekaan terhadap ancaman semakin berkurang karena keselarasan antara ‘self’ dan pengalamannya semakin meningkat
  • Persepsi terhadap diri idealnya semakin dapat dicapai dan semakin realistik
  • Diri semakin selaras dengan diri idealnya
  • Seluruh ketegangan berkurang
  • Kadar positive self-regard klien semakin meningkat
  • Klien dapat mempersepsikan tempat dari penilaian dan tempat dari pilihan di dalam dirinya.
  • Klien mempersepsikan orang-orang lain secara lebih realistik dan akurat
  • Klien semakin mengalami penerimaan diri dari orang-orang lain
  • Klien semakin menerima tingkah laku sebagai milik dari ‘self’ dan sebaliknya tingkah laku-tingkah laku yang tidak diakui sebagai pengalaman ‘self’ menjadi berkurang
  • Tingkah laku klien dinilai oleh orang-orang semakin dapat diterima oleh masyarakat dan matang
  • Tingkah laku klien semakin kreatif, adaptif, dan mengungkapkan sepenuhnya tujuan-tujuan dan nilai-nilainya sendiri.

 

  1. Peran terapis

Peran terapis dalam pertemuan terapi person centered tidak pasif atau laisser-faire sebagaimana dipikirkan oleh banyak orang. Terapis yang berperan laisser-faire dapat ditafsirkan oleh klien bahwa terapis tidak menganggap klien sebagai orang yang berharga.

Rogers mengatakan bahwa fungsi terapis adalah menerima sedapat mungkin kerangka acuan internal klien, mempersiapkan dunia sebagaimana dilihat klien, mempersiapkan klien sendiri sebagaimana dia dilihat oleh dirinya sendiri, dan dengan berbuat demikian dia menyisihkan semua persepsi dari kerangka acuan internal, dan mengkomunikasikan sesuatu dari pemahaman empatik ini kepada klien.

 

Teknik-teknik Terapi

 

Terapis person-centered masih menggunakan beberapa teknik (refleksi perasaan-perasaan yang dialami klien), yaitu teknik nondirektif, tetapi terapis tidak merasa terikat oleh teknik-teknik tersebut dan terapis juga tidak menggunakan teknik-teknik tersebut secara terencana dan hati-hati pada waktu melaksanakan wawancara.

 

LOGOTHERAPY

 

Konsep Dasar

 

Frankl memperhatikan problem manusia kini dalam keterpusatannya pada sentimentalisme yang muncul akibat berkurangnya secara absolut arti hidup, rasa perasaan hampa yang sering kali dikaitkan dengan suatu sentimentalisme kekosongan batin.

Manusia tidak mempunyai impuls dan insting yang menunjukan secara otomatis kepadanya apa yang harus dibuat dan, berbeda dengan manusia masa lampau, manusia masa kini tidak lagi memiliki nilai-nilai serta tradisi yang berbicara kepadanya tentang apa yang harus dibuat.

Frankl melihat banyak nervosi lahir dari konflik batin, pelbagai problem kesadaran, dan perbenturan nilai-nilai. Manusia dimotivasikan oleh suatu kehendak yang dapat dipaksa untuk mencapai makna.

Logoterapi terarah kepada realisasi nilai-nilai. Terapi ini berpegang pada pendapat bahwa ketegangan fundamental antara ‘ada’ dan ‘harus ada’ adalah esensial bagi manusia dan nervosi merupakan pelarian dari tanggung jawab.

 

Unsur-unsur Terapi

 

  1. Tujuan terapi

Logoterpai bermaksud mengatasi psikologisme yang mereduksi segala-galanya kepada mekanisme psikis. Ada reduksi genetis (segalanya berasal dari mekanisme) dan pandeterminisme analitis, yang memberikan tempat kepada yang disebut furor analysandi.

 

  1. Peran terapis

Relasi konselor dengan klien harus mengembangkan encounter , yaitu hubungan antarpribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami, dan menerima sepenuhnya satu sama lain.

 

Teknik-teknik Terapi

 

Suatu teknik logoterapi khusus adalah yang disebut intensi paradoksal. Teknik ini membantu orang yang nervosi untuk menginginkan sesuatu yang justru ditakutinya dan yang menimbulkan kecemasan.

 

Sumber:

Feist, J., & Feist, G. J. (2013). Teori kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika

Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta:Kanisius

Lippi, A. (2001). Salid dan penyembuhan. Yogyakarta:Kanisius

Anwar, F. (2011). Terapi eksistensial humanistik dalam konseling islam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s